The Girl I Love
"Eli-"
"Apa lagi kali ini Gil ?"
"Gilbert lagi ??" ternyata, untuk kesekian kalinya dia salah lagi mengenali seseorang.
Karena orang yang dia sangka Gilbert justru adalah Roderich."Roderich ??! Eh, anu... aku sepertinya lelah...hahaha" Elizabeth langsung menarik kursi dan segera duduk.Dia ingin menenangkan dirinya untuk saat ini.
Belakangan ini, mood dan feeling Eliza tidak terlalu baik.Kerap kali dia tampak bimbang dan terombang-ambing.Hal yang membuatnya risau adalah tentang keadaan rumah tangganya dengan Roderich yang mulai terganggu seiring ingatannya tentang Gilbert kembali muncul.
Roderich sendiri pun semakin menyadari sikap aneh Eliza belakangan ini.Tentu dia tahu betul apa yang menyebabkan Elizabeth bertingkah demikian.Dia hanya belum percaya dengan alasan yang dia ketahui, bahkan meskipun itu dari mulut Eliza, istrinya yang tercinta.Karena alasan itu, dia dan Eliza tidak seharmonis dulu.
'Karena dia temanku dan aku pernah kehilangan dirinya bertahun-tahun, tak salah kan kalau aku kembali peduli padanya saat dia datang lagi ??'
Tidak mungkin, Roderich sama sekali tidak percaya, alasan seperti itu sangat mustahil.Roderich hanya ingin Eliza kembali seperti dulu, menjadi istri yang sangat diidamkan Roderich alias Rodi."Aku rindu dirimu yang dulu Eliza..." bisik Rodi di telinga Eliza.
Rodi kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.Sementara Eliza masih tetap termenung di tempat yang sama.
Awalnya, kembalinya Gilbert setelah sekian lama menjadi kabar gembira bagi keduanya.Tapi perlahan semuanya berubah, kehadiran Gilbert yang semakin sering diantara keduanya lah yang jadi awal permasalahan ini muncul.Elizabeta pun sedikit-sedikit mulai manja dengan Gilbert, dan mulai mengacuhkan suaminya sendiri.Perhatian dan cinta yang semestinya dia curahkan untuk Roderich justru dia berikan pada Gilbert.Seakan perasaan cinta Eliza pada Gil masih tersisa, bahkan semakin besar untuk saat ini.
"Eliza, kita perlu bicara sekarang" Roderich menepuk pundak Elizabeta."Baiklah, silahkan kau dulu yang mulai" Eliza masih tampak kesal dengan posisi tangan menopang dagu.
Roderich berusaha terlihat santai dan nyaman.Sudah lama dirinya tidak ngobrol dengan Eliza dari hati ke hati.Canggung adalah apa yang keduanya rasakan.Suasana cukup hening untuk beberapa saat.
"Aku minta maaf, Eli..." ujar Roderich berusaha memulai pembicaraan."Untuk apa ?" Eliza menatap Rodi dengan cuek."Selama ini, aku akhirnya sadar...".
Eliza yang semula ingin menghindar terhenti karena mendengar sang suami terputus kata-katanya.Dia penasaran."Sadar...soal apa ?" Eliza mengedipkan mata.Ekspresinya pun terlihat lebih baik.Tanpa dia tahu, Roderich menghela nafas lega.
"Selama ini aku juga sering mengacuhkanmu, aku mulai mengerti kenapa kau lebih peduli padanya sekarang" Roderich menunduk, tampak merasa bersalah.
Eliza yang tidak sampai hati melihat suaminya seperti itu, langsung memeluk dan menenangkannya.Tak lama kemudian Eliza menangis terisak-isak.Roderich melepaskan pelukannya dan memandang wajah wanita pilihannya itu.
"Sstt...tak apa Eliza" Rodi memeluk dan mengelus kepala Elizabeta."Apa yang akan kau lakukan ? Dapatkan aku kembali, Rodi, jadikan aku milikmu seperti dulu"
"Sebelum aku tak akan kembali lagi" Eliza mengecup kening Roderich, sementara Rodi mengusap air mata Eliza."Baiklah, aku berjanji padamu".Roderich membungkuk kemudian berlutut di hadapan Eliza.
"Mari kita lakukan"
"Mulai detik ini, aku maupun kau, akan selalu menjaga dan saling peduli, kita akan menjaga kedamaian rumah tangga ini, hingga maut menjemput salah satu dari kita" ujar mereka berdua sembari menyatukan kedua tangan mereka.
"Aku akan lebih hati-hati terhadap Gilbert" ujar Eliza.
"Aku akan lebih memperhatikanmu" Roderich kembali berdiri."Nah, karena suasana hati kita lebih baik, bagaimana kalau dinner ?".
"Boleh juga" Eliza tampak sangat ceria, seperti seharusnya.Begitupun juga Roderich.
Itulah akhir bagi keduanya.Masalah yang meresahkan mungkin sudah selesai.Tapi keduanya masihlah harus berjuang mempertahankan janjinya.Karena membuktikan janji tidak semudah mengucapkannya.
Tapi setidaknya mereka yakin satu hal sekarang.Keduanya akan sanggup menghadapi tantangan asalkan selalu bersama.Karena hanya maut yang dapat memisahkan keduanya.
-FIN/THE END-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar